Laporan Kegiatan

Ngobras Muamalah: Ngobrol Santai Muamalah

29 Februari 2016

Syirkah (kongsi), dalam konteks muamalah adalah sebuah akad yang istimewa dibanding  akad-akad perniagaan lainnya seperti jual beli, murobahah, pinjam meminjam, istisna dan lain lain.

images/upload/berita/img_16035.jpgHal yang membuatnya Istimewa karena Allah menjamin bahwa Allah adalah pihak ketiga di dalam sebuah syirkah. Allah akan meninggalkan syirkah dan keberkahan syirkah tersebut manakala salah satu pihak berkhianat.

Beberapa jenis syirkah mencakup setoran uang dengan uang, setoran uang dengan tenaga, tenaga dengan tenaga.

Syirkah dimana 100% modal disetor oleh Shohibul Mal (pemilik modal/investor ) dan 0% oleh pengelola (mudhorib) dinamakan Mudharobah. Dalam Mudharobah kerugian 100% ditanggung oleh pemilik modal, sedangkan mudhorib tidak berhak menanggung sepeserpun kerugian. Adapun pembagian keuntungan adalah tergantung keridhoan masing2 pihak. Bisa 60 (pemodal):40(pengelola), 70:30, 90:10 dan lain lain.

Dalam Syirkah , sebaiknya pengelola tidak digaji, tetapi diberikan keuntungan yang lebih. Dari semisal saham modal syirkah 2 orang 50:50, boleh pengelola mendapatkan 5%,10% atau 20% lebih tinggi dari yang lain. Tidak ada aturan khusus dalam hal keuntungan lebih ini, asalkan masing-masing sama sama ridho.

Syirkah berpotensi rawan kedzaliman apabila pihak-pihak yang bekerjasama tidak mengenal dasar-dasar muamalah seperti jual beli, riba, Qardh (hutangpiutang), akad salam, dll.

Kasus yang paling sering terjadi dalam syirkah adalah persekutuan antara 2-3 belah pihak dimana salah satu pihak memberikan modal uang dengan persyaratan uang 100% kembali, penambahan  keuntungan dari modal tersebut dan porsi kepemilikan saham dalam persekutuan tersebut. Dalam hal ini telah terjadi 3 akad sekaligus dalam 1 syirkah, yakni akad Qardh (hutang piutang), akad riba dan akad syirkah itu sendiri yang mangatur bagi hasil. Hal ini demikian dzalim bagi mudhorib (pengelola). Solusinya harus dipilih oleh pemberi modal, salah satu yaitu modal yang disetor berupa hutang piutang (tanpa riba) ataukah porsi saham.

images/upload/berita/img_16036.jpg


Kasus lain yang juga muncul adalah ketidakjelasan porsi bagi rugi. Dalam hal ini ketika Syirkah rugi maka sebaiknya porsi bagi rugi adalah sesuai dengan modal disetor (porsi saham).

Beberapa kasus dalam Syirkah yg juga muncul adalah dalam konsep kemitraan suatu merek, dimana si pemilik merek mensyaratkan mitra/investor untuk pembelian gerobak/counter beserta bahan baku produknya. Ada kemungkinan, gerobak dan bahan baku sudah dimarkup sehingga pemilik merek sudah untung duluan pada syirkah tersebut. Agar pemilik merek terhindar dari potensi dzalim , sebaiknya kerjasama semacam ini dilakukan dengan akad terpisah , yakni akad jual beli gerobak dan akad ijarah (sewa menyewa) merek. Sehingga bisa jadi hal tersebut bukan syirkah melainkan jual beli biasa dan sewa merek.

Ngobras Muamalah 2

Demikian kurang lebihnya beberapa cuplikan dari materi Ngobras Muamalah kali ini.

Kesalahan penulisan dan pemahaman dari saya, kebenaran datangnya dari Allah..

Wassalam.. sampai bertemu di ngobras selanjutnya

 

Resume oleh: Doni Tirtana (Bebek Dower)

»