Laporan Kegiatan

#SEMINARAMADHAN: Memahami Waris Dalam Perspektif Islam Dan Hukum

17 Juni 2016

Dalam Islam, manusia dan hartanya adalah milik Allah. Manusia berhak menggunakan apa yang telah diamanahkan pemiliknya (Allah) selama ia hidup. Saat ia meninggal, maka semuanya dikembalikan kepada si Pemilik, yaitu Allah SWT. Dan hanya Allah yang berhak membagikan atau melimpahkan amanah tersebut kepada pengemban amanah berikutnya. Atas dasar ini, Allah jelaskan hukum waris secara detail dalam al Qur’an, yaitu di surah Annisaa’ ayat 11 – 14 dan ayat yang terakhir dari surah tersebut. Yang berhak mengemban amanah (dari kalangan ahli waris) adalah yang masih hidup saja, adapun yang meninggal tidak berhak mendapatkannya, atau dianggap tidak ada.

Ahli Waris utama dalam Islam ada 6 orang, yaitu: ayah, ibu, suami atau isteri, anak laki-laki dan anak perempuan. Ayah dan ibu berhak 1/6 jika almarhum memiliki anak, namun jika tidak, maka mereka mendapat 1/3. Ayah berhak sisa harta, jika almarhum tdk memiliki anak laki-laki, namun jika memiliki anak laki-laki, maka anak laki-laki yang berhak mendapatkan sisa harta. Anak perempuan berhak sisa harta bersama anak laki-laki, namun pembagian antara mereka (anak laki-laki dan perempuan) 2 berbanding 1.  Namun jika tidak ada anak laki-laki, maka anak perempuan mendapatkan setengah harta saat ia sendirian (1 orang), dan 2/3 saat lebih dari 1 orang.

Contoh : jika ada yang meninggal, meninggalkan harta sebesar Rp. 18jt, dan ahli waris yang ada : seorang anak perempuan, ibu dan ayah. Maka anak perempuan ½, ibu 1/6 dan ayah sisa. Harta warisan dibagi 6 (karena angka 6 yang bisa dibagi dengan pecahan ½ dan 1/6) : untuk anak perempuan 3/6, ibu 1/6 dan ayah 2/6. Maka dari harta warisan akan kita dapati : anak perempuan berhak 9jt, ibu 3jt dan ayah 6jt.

Namun jika ada 1 anak laki-laki diantara mereka, maka angka pembaginya tetap 6 : untuk ayah 1/6, ibu 1/6, sisanya untuk anak laki-laki dan perempuan 4/6 . Angka pembaginya yang tadinya 6 dikalikan 3 (karena anak laki-laki walau seorang, dianggap 2 orang, ditambah 1 anak perempuan, maka jumlah mereka menjadi 3 orang), maka angka pembagi akan menjadi 18. Untuk ayah 3/18, ibu 3/18, anak laki-laki 8/18 dan anak perempuan 4/18. Jika harta warisan diatas dibagi : maka ayah berhak 3jt, ibu 3jt, anak laki-laki 8jt dan anak perempuan 4jt. 

Suami berhak ½ harta almarhumah isterinya, jika almarhumah tidak punya anak, dan ¼ jika almarhumah punya anak. Isteri berhak ¼ dari harta suaminya, jika almarhum tidak punya anak, dan 1/8 jika almarhum punya anak.

Selain dari yang 6 diatas, masih banyak ahli waris yang lain, namun mereka tidak akan mendapatkan hak mereka jika diantara ahli waris diatas ada ayah dan anak laki-laki. Ahli waris lainnya adalah : saudara laki-laki dan saudara perempuan, cucu laki-laki dari anak laki-laki (jika tidak ada anak laki-laki), kakek (jika tidak ada ayah), nenek (jika tidak ada ibu), keponakan dari saudara laki-laki (jika tidak ada anak laki-laki, ayah, dan saudara laki-laki), paman dari ayah (jika tidak ada anak laki-laki, ayah dan kakek), sepupu laki-laki dari paman dari ayah (jika tidak ada semua laki-laki yg tersebut sebelumnya). Jatah warisan sudah disebutkan Allah dalam al Qur’an maupun dalam hadits, dan tidak mungkin dibahas satu persatu dalam artikel singkat ini.

Namun sebelum harta dibagi, ada 3 hal yang harus diutamakan : biaya prosesi pemakaman, pelunasan hutang dan pelaksanaan wasiat almarhum. Wasiat syaratnya : kpd selain ahli waris dan tidak boleh melebihi sepertiga dari total harta. Adapun hutang, berapapun harus dilunasi dari harta almarhum, walau berakibat tidak tersisa harta sedikitpun. Demikian juga prosesi pemakaman, serta pelunasan biaya pengobatan sebelum meninggal, dari harta almarhum.

Seorang berhak memberikan hartanya kepada siapapun disaat ia hidup, dan berapapun. Karena yang bersangkutan yang mengemban amanah dari Allah saat ia hidup, maka ia yang berhak menggunakannya di jalan yang diridhoi Pemiliknya yaitu Allah. Harta yang didapat suami adalah miliknya, dan harta yang didapat isteri adalah miliknya, masing2 menggunakan sesuai yang diamanahkan kepadanya. Hanya bedanya, suami wajib menyisihkan dari hartanya untuk menafkahi kebutuhan keluarganya, yang terdiri dari : isteri, anak-anaknya dan orangtuanya jika mereka tdk mampu atau tdk memiliki mata pencaharian.

Ahli waris tidak berhak harta warisan jika dia membunuh almarhum secara sengaja, atau berbeda agama atau berbeda status (budak). Dan warisan baru dibagi jika pemiliknya telah meninggal dunia, dan dianjurkan sesegera mungkin, tidak boleh diantara ahli waris menghalangi yang lain mendapatkan jatahnya, karena ia telah mendapat amanah selanjutnya dari Allah sesuai kadar yang telah diberikan kepadanya.

Tidak ada pembagian warisan disaat ; pemilik harta masih hidup, walau dalam kondisi koma, atau ia telah meninggal namun tidak memiliki harta warisan sama sekali atau tidak memiliki keluarga. 

»